PUSAT INFORMASI PATIN PUSTINA



Sejarah
Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypophthalmus) menjadi salah satu komoditas budidaya yang cukup penting di Indonesia. Volume produksi ikan Patin siam menempati urutan ke empat setelah ikan nila, mas dan lele dalam kelompok ikan air tawar. Benih merupakan salah satu mata rantai dalam bisnis akuakultur dan kualitasnya sangat menentukan keberhasilan usaha akuakultur. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan benih yang berkualitas. Metode seleksi (selective breeding) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk perbaikan mutu genetik dan sampai hari ini masih dominan digunakan pada banyak ikan budidaya. Bahkan di Eropa, 80-83% dari total produksi akuakultur menggunakan benih hasil program selective breeding.
Heritabilitas yang cukup tinggi untuk sifat-sifat yang memiliki nilai ekonomis pada ikan jika dikombinasikan dengan fekunditas tinggi serta interval generasi yang relatif singkat (1-4 tahun) pada sebagian besar spesies ikan akan menghasilkan kemajuan genetik yang memadai. Selain itu perbaikan mutu genetik yang diperoleh dari program selective breeding dapat diwariskan kepada generasi berikutnya karena sifat produksi dikontrol oleh banyak gen (polygene) yang bersifat aditif. Karakter pertumbuhan (galur pertumbuhan) menjadi karakter yang paling banyak dimuliakan dalam program selective breeding diikuti karakter morfologi, tahan penyakit, kualitas daging, fillet dan efisiensi pakan. Karakter pertumbuhan menjadi penting karena siklus produksi menjadi lebih cepat atau mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar dalam kurun waktu tertentu.
Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam (BPBAT Sungai Gelam) pada tahun 2009 telah mengumpulkan ikan Patin siam dari berbagai daerah (seluruh Indonesia, Kamboja, dan Vietnam) untuk membentuk populasi dasar yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding). Kegiatan seleksi dimulai tahun 2013 dengan desain satu galur pertumbuhan (diseleksi berdasarkan bobot tubuh) dengan menggunakan metode seleksi individu dan satu galur daya tahan dengan metode seleksi famili. Untuk galur pertumbuhan, sampai tahun 2018 telah diperoleh generasi ketiga. Evaluasi performa induk dan benih G3Ps dilakukan dari 2018 sampai dengan 2019. Berdasarkan hasil evaluasi diperoleh akumulasi respons seleksi (tiga generasi) sebesar 42,30% atau per generasi sebesar 14,20% dibandingkan dengan populasi dasar. Uji banding dengan ikan Patin siam yang sudah dirilis (Perkasa) sudah dilakukan.
